Pages

Subscribe:

Labels

Top Stories

Labels

Categories

Blogger templates

Blogger templates

Mengenai Saya

Foto Saya
just the smile and the rain is gone

Pengikut

Blogger news

Rabu, 21 Desember 2011

GEORG SIMMEL

Georg simmel lahir tahun 1858 di pusat kota berlin. Ayahnya seorang pedagang yahudi kaya, yang masuk agama Kristen, dan meninggal ketika georg masih sangat kecil, dan hubungan dengan ibunya agak jauh. Sesudah kematian ayahnya, seorang teman keluarga itu diminta untuk menjaga Georg, dan kekayaan berupa uang yang ditinggalkan oleh pengasuhnya itu memungkinkan dia untuk mempertahankan suatu gaya hidup borjuis yang enak, meskipun selama karirnya dia tidak berhasil memperoleh uang.
Simmel menerima gelar doctor dari Universitas Berlin tahun 1881 dan mulai mengajar disana tahun 1885. Dia merupakan seorang guru yang cemerlang, peka, sangat dalam pengetahuannya mengenai berbagai macam hal. Kuliahnya begitu berhassil sehingga tidak hanya mahasiswa yang menghadirinya tetapi juga kaum elit intelektual diberlin.
Meskipun pengetahuannya luas, kecemerlangan kuliahnya yang diakuai dan banyaknya serta mutu tulisannya, pengakuan professional yang diberikan kepada simmel selama kehidupan profesionalnya itu sangatlah sedikit. Selama lima belas tahun dia tetap sebagai dosen privat, yakni dosen yang tidak dibayar yang gajinya berdasarkan pembayaran mahasiswa. Kemudian dia menerima gelar professor luar biasa, tetapi hanya merupakan kehormatan belaka tanpa kompensasi. Simmel akhirnya meninggalkan universitas berlin tahun 1914, untuk menerima posisi sebagai professor penuh pada universitas Strasbourg, namun malang kehidupan akademisnya segera terhenti Karena pecah perang.
Meskipun pengakuan professional yang resmi kurang, keahlian simmel dalam memberikan kuliah menghasilkan banyak pengagum, dan persahabatannya dengan kalangan intelektual akademis, menyenangkan baginya. Bersama dengan Tonnies dan Weber, Simmel mengharapkan untuk mendirikan perkumpulan German Society for Sociology. Weber berusaha supaya simmel dipromosikan lebih cepat, namun tidak berhasil. Simmel tentu bukan berada diluar lingkungan akademis seperti halnya dengan comte di perancis awal abad itu, namun statusnya jelas bersifat marginal.
Ada beberapa alasan untuk posisi marginalnya simmel ini. Coser dan spykmann menunjukkan bahwa darah Yahudi Simmel mungkin merupakan salah satu alasan. Selain sikap anti-semitdijerman, Simmel sendiri memperbesar marginalitasnya dengan menolak untuk menyesuaikan diri dengan suatu spesialisasi yang sudah diakuai dalam dunia akademis. Minatnya sangat luas, dan dari titik pandangan kaum akademisi yang berkuasa pada waktu itu, hal ini memperlihatkan suatu penolakan untuk mengambil suatu bagian tertentu dalam suatu spesialisasi yang sudah diakui dan untuk mengabdikan dirinya dalam bidang ilmu pengetahuan secara penuh. Simmel tidak tertarik pada usaha membangun suatu jenis filsafat atau sosiologi yang komprehensif. Sebaliknya, seperti coser kemukakan, simmel nampaknya mengikuti dorongan hatinya, mulai dari epistimologi kant sampai ke sosiologi mengenai makanan atau mode atau topic apa saja lainnya yang mungkin muncul dalam fantasinya, namun hasil keseluruhannya bersifat fragmen-fragmen saja.
Latar belakang simmel yang kekotaan itu serta status akademisnya pasti memberikannya kepekaan akan hal-hal yang halus dan tidak kentara dalam proses social yang tercermin dalam tulisannya. Mungkin beberapa dari pandangan ini tidak muncul kalau Simmel berakar lebih kuat lagi dalam perspektif intelektualnya dan jadinya kurang objektif lagi.

1.      Teori George Simmel
Simmel menjadi terkenal pada mulanya karena pemikirannya tentang bentuk-bentuk interaksi. Simmel melihat bahwa salah satu tugas sosiologi adalah memahami interaksi antar individu. Salah satu teori dari Simmel yang terkenal yaitu mengenai masyarakat sebagai proses interaksi. Pengertian masyarakat menurut pandangan Simmel, masyarakat dapat terbentuk karena adanya interaksi, bukan adanya kelompok orang yang hanya diam. Simmel tidak memementingkan berapa jumlah orang yang berinteraksi, yang penting adalah adanya interaksi. Melalui interaksi timbal balik, dimana individu saling berhubungan dan saling mempengaruhi, maka masyarakat itu akan muncul. Misalnya saja sekelompok orang yang sedang menunggu kedatangan pesawat dan kemudian ada pengumuman bahwa sebentar lagi pesawat akan datang, di sana beberapa orang akan mulai berbicara dengan orang yang ada disampingnya. Menurut Simmel, ini dapat disebut dengan masyarakat, tetapi masyarakat tersebut hanyalah masyarakat yang bersifat sementara dimana ikatan-ikatan interaksi timbal baliknya juga sementara. Masyarakat terdiri dari jaringan relasi-relasi yang menjadikan mereka bersatu. Terdorong dari dalam batinnya oleh bermacam-macam tujuan dan kebutuhan, manusia mencari kontak dengan orang lain, misalnya dengan komunikasi. Komunikasi merupakan salah satu bentuk dari interaksi, di mana para partisipan memakai bahasa atau simbol-simbol lain yang telah disepakati bersama, sehingga memlalui sarana tersebut mereka dapat saling memepengaruhi. Jika komunikasi ini berlangsung secara terus menerus, maka kehidupan sosial akan tampak.
            Bentuk dua-an, tiga-an, di sini Simmel membedakan interaksi yang jumlah orangnya dua, tiga atau lebih. Dalam masayarakat dua-an terdapat hal-hal yang berbeda yang tidak terdapat dalam tiga-an, yaitu dalam dua-an apabila yang satu meninggalkan interaksi tersebut maka masyarakat tersebutakan bubar atau hilang, berbeda dengan masyarakat tiga-an, dalam masyarakat tigaan atau lebih apabila yang satu meninggalkan interaksi ataupun tidak memperdulikan interaksi tersebut, maka masyarakat tersebut masih bisa berjalan. Menurut Simmel, perkembanga sosiologis terjadi jika sekelompok orang yang beranggotakan dua orang diubah menjadi tiga orang karena tuntutan pihak ketiga. Kemungkinan-kemungkinan sosial yang muncul dalam triad jelad tidak akan muncul dalam dyad. Misalnya dalam kelompok triad, salah seorang anggota dapat menjadi arbiter atau mediator dalam menghadapi perbedaan-perbedaan yang muncul antara dua anggotanya yang lain
            Dalam kajian sosiologi, Simmel memusatkan perhatian pada bentuk-bentuk interaksi sosial, yang diartikan sebagai pola perilaku universal dan berulang-ulang berdasarkan isi kehidupan sosial yang diungkapkan. Isi kehidupan sosial antara lain mencangkup naluri (insting), kepentingan objektif, keuntungan, dan yang lainnya. Keseluruhan isi ini menurut Simmel, menyebabkan  orang hidup bersama dengan orang lain, bekerja sama, memepengaruhi dan dipengaruhi orang lain.
            Dalam bukunya The Philosophy Of Money, Simmel memusatkan perhatian pada kemunculan perekonomian uang dalam masyarakat modern yang terpisah dari individu dan mendominasi individu. Menurut Simmel, kultur dalam masyarakat modern dan seluruh komponennya yang beraneka ragam itu (termasuk ekonomi uang) akan berkrmbang, dan begitu sudah berkembang maka arti penting atau peran individu akan mulai menurun. Misalnya, begitu tekhnologi industry yang menyertai ekonomi modern berkembang dan tumbuh makin canggih, maka ketrampilan dan kemampuan tenaga kerja secara individual makin kurang penting. Akhirnya tenaga tenaga kerja dikonfrontasikan dengan mesin-mesin industry. Lebih umum lagi, Simmel berpendapat bahwa kehidupan modern, perkrmbangan kultur yang lebih luas mnyebabkan peran individu makin merosot.
            Dalam teori uangnya, Simmel menyatakan bahwa uang dapat merubah pola interaksi. Misalnya, pada zaman dahulu ketika belum terdapat uang maka orang akan melakukan jual beli dengan cara barter, tetapi kemudian muncul uang logam  masyarakat lebih mudah membelanjakannya, begitu juga dengan uang kertas, masyarakat tidak akan sulit membawa uang kemana-mana karena uang tersebut sangatlah ringan.
            Menurut Simmel, petukaran ekonomi merupkan interaksi sosial. Ketika transaksi moneter menggantikan barter, maka terjadi perubahan penting dalam bentuk interaksi atau pelaku sosial. Dalam pengamatan Simmel, manusia modern telah menjadikan uang sebagai tujuan utama, padahal sebetulnya uang hanya merupakan sarana. Bersamaan dengan itu, muncullah dampak-dampak negative terhadap individu, seperti sinisme. Dampak ekonomi lainnya adalah reduksi nilai-nilai manusia jadi uang. Artinya, bahwa segalanya bernilai kalau menghasilkan banyak uang. Sambil menunjukkan dampak negative dari fenomena uang, Simmel menegaskan semuanya tergantung pada manusia itu sendiri. Akan tetapi diingatkannya bahwa uang hanyalah sarana, bukan tujuan utama.
            Tidak ada lagi individu yang terbatas, seperti dalam system barter, pada penukaran barang atau jas menurut kebutuhan mereka yang berlangsung, sebaliknya suatu produk atau jasa dapat ditukar dengan uang, yang nantinya dapat digunakan dalam transaksi pertukaran lainnya dengan orang yang berlainan. Uang memungkinkan orang untuk mengatasi kebutuhannya yang berlabgsung dalam transaksi ekonomi dan untuk terlibat dengan sejumlah orang dengan siapa pertukaran yang langsung atau barter itu tidak mungkin dapat dilaksanakan.
            Uang dapat mempertinggi kebebasan individu, paling tidak bagi mereka yang mempunyai cukup uang. Gaya hidup individu tidak terlalu banyak ditentukan oleh kebiasan dan tradisi, seperti yang ditentukan oleh sumber-sumber keuangan yang mereka miliki untuk membeli perlengkapan-perlengkapan yang perlu untuk gaya hidup yang sudah mereka tentukan. Bentuk- bentuk sosial yang dominan dalam kehidupan modern sangat berbeda dalam berbagai hal dari bentuk-bentuk sosial dalam kehidupan tradisional.
            Jadi secara garis besar, teori simmel Simmel lebih menekankan pada interaksi sosial yang membentuk masyarakat. Dalam pandangannya, pokok permasalahan yang sangat tepat untuk sosiologi adalah bentuk-bentuk interaksi dibandingkan dengan isi interaksi. Walaupun lingkupnya kecil, tetapi teori Simmel tersebut masih tetap ada sampai sekarang. Dan teorinya tentang uang, Simmel mencoba menganalisis mengenai pengaruh adanya uang sebagai alat tukar terhadap perubahan gaya hidup manusia.
Bentuk dan Tipe
Pokok perhatian simmel bukanlah isi melainkan bentuk interaksi social. Perhatian ini muncul dari keidentikan simmel dengan tradisi Kantian dalam filsafat, yang memisahkan bentuk dan isi. Namun, pandangan simmel cukup sederhana. Dari sudut pandang simmel, dinia nyata tersusun dari peristiwa, tindakan, interaksi, dan lain sebagainya yang tak terhingga. Untuk memecahkan teka-teki realitas ini (isi), orang menatanya dengan menerapkan sejumlah pola, atau bentuk padanya. Jadi, alih-alih serangkaian peristiwa spesifik yang membingungkan, actor berhadapan dengan bentuk dalam jumlah terbatas. Menurut pandangan simmel, tugas sosiolog adalah melakukan hal yang sama persis dengan apa yang dilakukan orang awam, yaitu menerapkan bentuk yang jumlahnya terbatas kepada realitassosial, khususnya pada interaksi, sehingga dapat dianalisis secara lebih baik. Metodologi secara umum meliputi ekstraksi kesamaan yang ditemukan pada luasnya bentangan interaksi spesifik. Sebagai contoh, bentuk superordinasi dan subordinasi interaksi ditemukan diberbagai latar, “dalam Negara maupun dalam komunitas keagamaan, dalam sekelompok konspirator sebagaimana dalam asosiasi ekonomi, disekolah seni maupun didalam kelurga”. Donald Levine, salah seorang pembahas simmel kontemporer menggambarkan metode simmel dalam melakukan sosiologi interaksional formal sebagai berikut: “ metodenya menyeleksi beberapa fenomena terbatas dan pada lingkup tertentu dari dunia yang terus-menerus berubah ini, menelaah berbagai elemen yang membentuknya, dan menjelaskan sebab musabab koherensi mereka dengan mengungkapkan bentuknya. Kedua, ia meneliti asal-usul bentuk dan implikasi strukturalnya. Lebih spesifik, Levine menunjukkan bahwa “ bentuk merupakan pola-pola yang ditunjukkan oleh asosiasi.
Minat simmel pada bentuk interaksisosial menuai beragam kritik. Sebagai contoh, ia dituduh memaksakan suatu tatanan yang sebenarnya tidak ada dan dituduh menghasilkan serangkaian studi yang tidak saling terkait dan pada akhirnya sama sekali tidak menerapkan tatanan yang lebih baik pada kompleksitasrealitas social bila dibandingkan dengan yang dilakukan oleh orang awam. Beberapa kritik hanya berlaku jika kita memusatkan perhatian pada pokok perhatian simmel terhadap bentuk interaksi, yang merupakan sosiologi formalnya,dan mengabaikan tipe sosiologi lain yang dipraktikkannya.
Namun, ada beberapa cara untuk membela pendekatan simmel terhadap sosiologi formal. Pertama, pendekatan ini dejkat dengan realitas, seperti tercermin dari begitu banyak contoh dari dunia nyata yang digunakan simmel. Kedua, pendekatan ini tidak menerapkan kategori sewenang-wenang dan kaku terhadap realitas social namun justru mencoba membiarkan bentuk-bentuk tersebut mengalir dari realitas social. Ketiga, pendekatan simmel tidak menggunakan skema teoritis umum tempat dipaksanya seluruh aspek dunia social.selanjutnya ia menghindari reifikasi skema teoritis yang menjangkiti teoritisi seperti talcott parsons. Akhirnya, sosiologi formal berlawanan dengan empirisme yang dikonseptualisasikan secara buruk yang merupakan cirri dari sebagian besar sosiolog. Simmel benar-benar menggunakan data empiris, namun data-data tersebut ditempatkan dibawah upayanya untuk menerapkan beberapa aturan tentang rumitnyadunia realitas social.

Geometri sosial
Dalam sosiologi formal simmel, kita dapat melihat jelas upayanya mengembangkan “geometri” relasi social. Dua dari koefisien geometri yang menarik perhatiannya adalah jumlah dan jarak.
a.      Jumlah
Minat simmel pada dampak jumlah orang terhadap kualitas interaksi dapat dilihat dalam bahasannya tentang perbedaan dyad dan triad.
Dyad dan triad, bagi simmel terdapat perbedaann krusial antara dyad (kelompok yang terdiri dari dua orang) dengan triad (kelompok yang terdiri dari tiga orang). Tambahan orang ketiga menyebabkan perubahan radikal dan fundamental. Anggota keempat dan seterunsnya membawa dampak yang hamper sama dengan masuknya anggota ketiga. Tidak seperti kelompok lain, dyad tidak memperoleh makna diluar individu yang terlibat didalamnya. Tidak ada struktur kelompok independen dalam dyad, kelompok tidak lain hanya terdiri dari dua individu yang dapat dipisahkan. Jadi, masing-masing anggota dyad mempertahankan tingginya level individualitas. Individu tidak direndahkan pada level kelompok. Ini tidak terjadi pada triad. Triad memiliki kemungkinan besar memperoleh makna diluar individu yang terlibat. Tampaknya triad lebih dari sekedar individu yang terlibat didalamnya. Triad berpotensi melahirkan struktur kelompok independen. Akibatnya, terjadi ancaman lebih besar bagi individualitas anggotanya. Triad mungkin saja membawa dampak relevan umum pada anggotanya.
Dengan masuknya pihak ketiga kedalam kelompok, sejumlah peran sosial menjadi mungkin. Sebagai contoh, pihak ketiga dapat memainkan peran sebagai penengah atau mediator pada perselisihan dalam kelompok. Selanjutnyya pihak ketiga dapat memanfaatkan perselisihan antar dua pihak yang lain demi keuntungannya sendiri atau menjadi sasaran yang diperebutkan dua pihak lain. Anggota ketiga pun dapat secara sengaja mendorong terjadinya konflik antar dua pihak lain untuk memperoleh superioritas. Sistem stratifikasi dan struktur otoritas dapat  muncul. Gerakan dari dyad menuju triad adalah sesuatu yang esensial bagi berkembangnya struktur sosial yang dapat dipissahkan dari, dan dominan terhadap individu. Kemungkinan semacam itu tidak ada dalam dyad.
            Proses yang dimulai dengan transisi dari dyad menuju triad berlanjut kettika kelompok yyang lebih besar, dan akhirnya masyarakat, muncul. Dalam strukturr sosial yang besar ini, individu, yang semakin terpisah dari struktur masyarakat, tumbuh semakin menyendiri, terisolasi dan akhirnya terfregmentasi.
Ukuran kelompok
            Pada level yang lebih umum terdapat sikap simmel yang mendua terhadap dampak ukuran kelompok. Disattu sisi ia berpendapat bahwa meningkatnya ukuran kelompok atau masyarakat akan meningkatkan kebebasan individu. Kelompok atau masyarakat kecil cnderung mengontrol individu sepenuhnya. Namun pada masyrakat yang lebih luas, individu cenderrung terlibat dalam sejumlah kelompok, yang masing-masing hanya mengontrol sebagian kecil dari keseluruhan kepribadian. Namun simmel juga berpandangan bahwa masyarakat besar menciptakkan serngkaian masalah yang pada akhirnya mengancam kebebasan inividu.
            Mungkin yang terpenting dalam konteks minat simmel terhadap bentuk-bentuk interaksi, adalah bahwa meningkatnya ukuran dan diferensiasi cenderung mengendurkan ikatan antar individu dan menimbulkan hubungan yang lebih jauh , impersonal, dan segmental. Paradoksnya, besarrnya kelompok yang membebaskan individu secara simultan mengancam individuualitas tersebut. Yang juga paradoksal adalah keyakinannsimmel bbahwa satu cara yag dilakukan individu untuk mengatasi ancaman masyarakat massa adalah mencenurkan diri mereka kedalam kelompok kecil seeperti keluarga.
b.       jarak
            Pokok perhatian simmel yang lain dalam geometri sosial adlah jarak. Levine memaparkan dengan baik panddangan simmel tentang peran jarak dalam relasi sosial ini. “unsur beentuk dan makna berbagai hal merupakan fungsi dari jarak reelatif antarindividu dan individu.” perhatian terhadap jarak ini muncul diberbagai teempat dalam karya simmel.
            Jarak juga memainkan peran sentral dalam esai simmel “the stranger”, yang membicarakan, tipe aktor yang tidak terlalu dekat ataupun terlalu jauh. Jika terlalu dekka, ia tidak lagi orang asing, namun jika terlalu jauh, ia akan kehilangan kontak dengan kelompok. Interaksi yang dijalankan orang asing dengan anggota kelompok meliputi kombinasi kedekatan dan jarak. Jarak tertentu orang asing dari kelompok tersebut memungkinkannya memiliki serangkaian pola interaksi tidak lazim dengan anggotanya.
            Meskipun dimensi geometri mencakup sejumlah gagasan simmel tentang bentuk dan tipe, didalamnya ada hal-hal yang lebih dari sekedar geometri. Tipe dan bentuk addalah sebuah konstruk yang digunakan simmel untuk  memperoleh pemahaman yang lebbih baik tentang luuasnya cakupan pola-poola interaksi.
  1. tipe sosial
  2. bentuk sosial
Sebagaimana dengan tipe sosial, simmel melihat luasnya ccakupan bentuk sosial, termasuk pertulkaran, konflik, prosstitusi, dan soasiabilitas. Kita dapat melukiskan diskusi simmel tentang dominasi, yaitu superordinasi dan subardinasi.
Superoedinasi dan subordinasi, memiliki hubungan timbal balik. Pemimpin tidak ingin sepenuhnya mengarahka pikirran dan tindakan ornag lain. Justru pemimpin berharap pihak yang tersubordinasi beraksi secara positif dan negatif. Tidak satupun bentuk interaksi ini yang mungkin ada ttanpa adanya hubungan timbal balik. Dalam bentuk domiinasi paling operatif sekalipun, sampai tingkat tertentu, pihak yang tersubordinasi tetap memiliki kebebasan pribadi.
Bagi kebanyakan orang, superordiinassi menccakup upaya untuk menghhapus sepenuhnya independensi pihak yang tersubordinasi, namun simmel berargumen bahwa relasi ssosial perlahhan akan hilang jika ini terjadi.
Simmel menyatakan bahwa orang dapat disubordinasi oleh individu, kelompok, atau kekuatan objektif. Kepemimpinanoleh indiividu tunggal umumnya mengarah pada kelompok tertutup rapat yang mendukung atu menenttang pemimpin. Sekaliipun ketika oposisi muncuul dalam kelompok tersebut, perselisihan dapat diselesaikan dengan mudah ketiika pihak-pihak yang bertikai berada pada kekuasaan yang samma-sama lebih tinggi . Subordinasi dalam suatu kerragaman dapat membawa akibat yang tidak merata. Disatu sisi,  objektivitas kekuasaan yang diijalankan keragaman mungkin dapat membentuk kesatuan yang lebih besar dalam kelompok bila diibandingkan dengan kekuasaan sewenang-wenang individu . Disisi lain, kebencian cenderung tumbuh diantara pihak yang tersubordinasi jika mereka tidak mendapatkan perrhatian pribadi pemimpin.
2.      Tragedy kebudayaan
Sebab utama meningkatnya kesenjangan ini adalah meningkatnya pembagian kerja di masyarakat modern(Oakes, 1928:19). Meningkatnya spesialisasi mengarah pada perbaikan kemampuan untuk menciptakan beragam komponen dunia budaya. Namun, pada saat yang sama, individu yang terspesialisasi kehilangan pemahaman akan kebudayaan total dan kehilangan kemampuan untuk mengendalikannya. Ketika kebudayaan obyektif tumbuh, kebudayaan individu sirna. Salah satu contohnya adalah bahasa sebagai keseluruhan totalitas telah berkembang begitu pesat, namun kemampuan linguistic individu tertentu justru merosot. Terkait dengan itu, seiring dengan tumbuhnya teknologi dan permesinan, kemampuan pekerja individu dan ketrampilan yang dibutuhkan telah merosot drastic. Akhirnya, meskipun terjadi ekspansi besar-besaran ranah intelektual semakin sedikit individu yang tampaknya layak mendapatkan label’intelektual’. Individu terspesialisasi berhadapan dengan prodak yang semakin tertutup dan saling terkait yang hanya sedikit saja atau sama sekali tidak mampu mereka kendalikan. Dunia mekanis yang hampa spiritualisme mulai mendominasi individu, dan gaya hidup mereka terpengaruhi. Produksi menjadi aktivitas hampa makna di mana individu tidak melihat peran apapun yang dapat mereka mainkan dalam seluruh proses produksi atau dalam prodak akhir. Hubungan antar orang sangat terspesialisasi dan impersonal. Konsumsi menjadi sekedar dikonsumsinya satu proak hampa makna setelah prodak hampa makna lainnya.
Ekspansi besar-besaran kebudayaan obyektif membawa efek dramatis pada irama kehidupan. Secara umum, ketimpangan yang menjadi ciri khas dari epos awal ini meningkat dan di dalam masyarakat modern digantikan oleh pola kehidupan yang jauh lebih konsisten. Contohnya adalah begitu tingginya peningkatan kebudayaan modern.Stimulasi intelektual yang sebelumnya terbatas pada pecakapan pada saat-saat tertentu atau pada buku-buku langka kini tersedia sepanjang waktu karena tersedianya buku dan majalah.
Pada akhirnya uang menjadi symbol dan factor utama dalam perkembangan mode ekstensi relativistic. Uang memungkinkan kita mereduksi fenomena yang sangat berbada menjadi sejumlah dolar, dan hal ini memungkinkannya diperbandingkan satu sama lain.dengan kata lain uang memungkinkan kita merelatifkan segalanya. Jalan hidup relativistic kita berlawanan dengan metode hidup sebelumnya, dimana orang percaya pada sejumlah kebenaran abadi. Ekonomi uang menghancurkan kebenaran abadi terebut. Keberhasilan orang dalam meningkatkan kebebasan dan melampaui gagasan mutlak semakin memakan ongkos. Alienasi yang menjdi endemic bagi menyebarnya kebudayaan objektif ekonomi uang modern, menurut pandangan simmel lebih mengancam ketimbang jahatnya absolutism. Mungkin simmel tidak berharap agar kita kembali pada masa sebelumnya yang lebih sederhana, namun jelas bahwa ia mengingatkan kita agar waspada akan ancaman bahaya yang dialokasikan dengan tumbuhnya ekonomi uang dan kebudayaan objektif di dunia modern.
Tragedy kebudayaan dalam konteks yang lebih luas. Birgitta Nedelmann (1991) menawarkan tafsir menarik tentang tragedy kebudayaan dalam konteks yang disebutnya sebagai tiga masalah kebudayaan Simmel.
Masalah pertama adalah nestapa budaya. Ini adalah akibat dari konflik antara individu sebagai pencipta kebudayaan dengan bentuk-bentuk budaya yang  bersifat tetap dan tanpa batasan waktu yang mereka hadapi. Kalau individu harus memenuhi kebutuhannya dengan menciptakan bentuk-bentuk budaya, pemenuhan tersebut semakin tidak mungkin terjadi, paling tidak sebagian karena system budaya… tertinggal di belakang perkembangan kreativitas manusia’ ( Nedelmann, 1991:175). Respon individu terhadap dilemma ini adalah dengan mawas diri menyepi. Hal ini mengarah pada individualisasi kreativitas budaya. Namun nestapa terjadi karena kreativitas bagi seseorang tidak pernah memuaskan sebagaimana penciptaan bentuk budaya yang lebih besar.
Masalah kedua adalah kerancuan budaya. Dalam hal ini Simmel membedakan gaya denganseni. Gaya terkait dengan generalitas dengan ‘ elemen-elemen objek artistic yang sama’. Gaya melibatkan objek yang diciptakan oleh pengrajin, misalnya kursi atau gelas. Sebaliknya seni terkait dengan singularitas, dengan ‘ keunikan dan individualitas’. Namun manusia modern’ menciptakan ketidakteratuan di ranah estetik’ dengan melihat ‘ objek kerajinan seolah-olah sebagai karya seni, namun ketika keduanya dicampurkan kemungkinan bagi terciptanya keseimbangan individu pada akhirnya berubah menjadi kondisi ideal yang tidak dapat direalisasikan.
Akhirnya dan yang terpenting adalah masalah tragedy kebudayaan. Nedelmann menawarkan tafsir menarik terhadap gagasan ini. Ia menujukkan ini adalah satu tragedy, ketimbang sekedar kesedihan karena kehancuran social adalah akibat niscaya dari logika imanen.

0 komentar:

Poskan Komentar